Thursday, April 18, 2019

Diselamatkan Untuk Berbuat Baik

Diselamatkan untuk berbuat baik ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari surat rasul Paulus kepada orang Kristen yang ada di kota Galatia, yaitu dalam Galatia 6:1-10. Dalam Galatia 6:9, rasul Paulus dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah”.

Setelah manusia pertama yaitu Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, maka sejak saat itu relasi Allah dengan manusia terputus. Allah tidak bisa lagi tinggal bersama dengan manusia. Salah satu buktinya ialah manusia diusir dari Taman Eden.

Allah tetap mengasihi manusia sekalipun Dia membenci dosa. Itu sebabnya Allah mengutus Yesus datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan dan mendamaikan manusia dengan Allah. Melalui Yesus kita diselamatkan dan didamaikan dengan Allah.

Setelah kita diselamatkan, maka Allah mau supaya kita berbuat baiklah kepada sesama kita. Selain itu, kita juga harus berbuat baiklah kepada ciptaan Allah yang lain. Selanjutkan, kita juga diperintahkan oleh Tuhan untuk berbuat baiklah kepada musuh kita sekalipun.


Berbuat baiklah adalah perintah dari Allah kepada kita. Berbuat baiklah merupakan salah satu cara dan bukti bahwa kita memiliki iman. Lebih dari itu berbuat baiklah merupakan tanggung jawab sosial kita kepada sesama manusia yang membutuhkan uluran tangan kita. Berikut merupakan kisah dari salah bentuk berbuat baiklah kepada sesama kita.

Kehadiran sesama di dalam kehidupanDi sebuah kota kecil, tinggallah seorang gadis dengan ibunya yang selalu mengajarinya untuk menjadi berkat. Suatu pagi, pintu rumah mereka diketok seseorang. Gadis itu pun membuka pintu dan tampaklah seorang anak laki-laki yang lusuh. Sambil memandangnya ragu, anak itu meminta segelas air.

Alih-alih membawakan air putih, gadis itu memberikan segelas besar susu yang habis dalam sekejap. Lalu si anak bertanya berapa harga susunya. Namun gadis itu tersenyum dan mengatakan susu itu gratis. Dua puluh tahun kemudian, gadis itu didiagnosa sakit kronis. Para dokter di kotanya angkat tangan dan merujuknya pada seorang dokter spesialis di kota besar.

Di sana, ia menjalani operasi dan perawatan untuk penyakitnya. Ketika akhirnya ia sembuh dan diperbolehkan pulang, ia pun hendak membayar tagihan rumah sakit. Sejenak kekuatiran melandanya. Ia tidak yakin bisa mebayar seluruh biaya perawatannya. Namun ketika menerima lembar tagihannya, sebagai ganti sejumlah uang yang mungkin tidak mampu dibayarnya, tertera sebuah pesan: “Telah dibayar lunas dengan segelas susu.”

Janji Tuhan tidak pernah salah. Ketika kita menabur, kita pasti akan menuai. Jika kita berbuat baik, maka suatu hari kebaikan itu akan kembali pada kita. Bahkan tuaian yang sudah Tuhan sediakan jauh lebih besar dari apa yang telah kita taburkan.

Itulah sebabnya, seperti yang dikatakan dalam Galatia 6:9, jangan berhenti berbuat baik. Lakukan perbuatan baik itu secara terus-menerus dan berkali kali. Terkadang situasi dan kondisi membuat kita sulit untuk berbuat baik, tetapi jangan sampai garam dalam kehidupan kita menjadi tawar dan hidup kita dinilai tidak ada gunanya lagi oleh Tuhan.

Selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita secara konsisten berbuat baiklah kepada semua orang termasuk kepada musuh kita sekalipun. Kita harus terus berbuat baiklah sebagai bukti bahwa kita adalah murid Yesus. Bentuk lain dari berbuat baiklah yaitu menjadi terang dan garam bagi dunia ini. Dengan berbuat baiklah, maka kita sedang melakukan misi sosial kita.

Berbuat baiklah sebenarnya kita tidak akan pernah rugi. Malah sebaliknya dengan berbuat baiklah justru kita akan mendapat keuntungan selama hidup di dunia. Bahkan keuntungan dari berbuat baiklah akan dibawa sampai ke sorga.

Dengan demikian, kita pun akan dibawa Tuhan masuk ke level kemuliaan yang lebih besar dalam rencana-Nya. Biarlah kebaikan-kebaikan kita menjadi sebuah kesaksian yang membawa banyak orang kepada Tuhan, sehingga revival itu pun terjadi. Tuhan Yesus memberkati.

Wednesday, April 17, 2019

Hidup Dalam Pengorbanan

Hidup dalam pengorbanan ~ Rasul Paulus menulis: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia” – Filipi 1:29. Firman Tuhan yang ditegaskan oleh rasul Paulus tersebut memberikan dua hal penting, yaitu: satu, Allah mengaruniakan iman kepada kita untuk bisa percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi; dua, Allah juga mengaruniakan kesempatan bagi kita untuk mengambil bagian dalam penderitaan atau pengorbanan Yesus.

Dengan demikian, semua pengorbanan atau penderitaan orang percaya atau gereja Tuhan, bertumpu dan bersumber pada pengorbanan Yesus. Satu-satunya motif berkorban yang benar adalah kasih. Allah menghendaki agar kita hidup seperti “rumput” di taman. Walau di injak, di potong, dihancurkan, di bakar, namun muncul lagi, lebih hijau dan lebih kuat dari sebelumnya.

Kalimat tanya: “Bagaimana supaya kita bisa hidup dalam pengorbanan?”
Kalimat peralihan: Berdasarkan kebenaran firman Tuhan dalam 1 Petrus 2:21-25, maka ada beberapa hal berkaitan dengan hidup dalam pengorbanan, yaitu:


1.    Hidup konsisten di jalan Yesus – 1 Petrus 2:21-23
a.    Apa itu konsisten?
Kata “konsisten” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: “tetap (tidak berubah-ubah); taat asas; selaras; sesuai. Jadi, setiap orang Kristen yang mengalami hidup baru di dalam Tuhan Yesus harus memperlihat suatu kehidupan yang tetap atau tidak berubah-ubah, hidup selaras atau sesuai dengan firman Tuhan.

b.    Dalam hal apa kita hidup konsisten di jalan Yesus?
1)    Yesus tidak berbuat dosa – ayat 22a
2)    Yesus tidak berbohong – ayat 22b
3)    Yesus tidak membalas caci maki dengan mencaci maki – ayat 23a – kata “dicaci maki” dalam bhs Yun. menggunakan kata “loy-dor-eh'-o” yang artinya: “menghina, mengejek”. Kata “mencaci maki” dalam bhs Yun. menggunakan kata “an-tee-loy-dor-eh'-o” yang artinya: “membalas dengan mencaci-maki”.
4)    Yesus menderit namun tidak mengancam – ayat 23b – kata “menderita” dalam bhs Yun. menggunakan kata “pas'-kho path'-o” yang artinya: “telah menderita penderitaan; telah menanggung dan mengalami penderitaan”. 

2.    Hidup komitmen seperti Yesus – 1 Petrus 2:24-25
a.    Apa itu komitmen?
Kata “komitmen” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan sebagai: “perjanjian (keterikatan) untuk melakukan sesuatu”. Jadi, “komitmen adalah suatu keadaan dimana setiap orang percaya membuat perjanjian (keterikatan) atau janji hati, baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain untuk melakukan sesuatu dalam kasih, sukarela dan ketulusan.

b.    Dalam hal apa kita hidup komitmen seperti Yesus?
1)    Komitmen mengikuti jejak teladan Yesus – ayat 21 – “Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya”. Kata “mengikuti” dalam bhs Yun. menggunakan kata “epakolootheho” yang artinya “telah menggunakan kesempatan”. Lalu kata “jejak” dalam bhs Yun. menggunakan kata “ikhno’s” yang artinya menurut cara yang sama”.

2)    Komitmen untuk hidup dalam kebenaran – ayat 24a – “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran”. Di sini Yesus yang aktif sedangkan kita pasif. Kata “memikul” dalam bhs Yun. menggunakan kata “anafero” yang artinya “membawa naik; mengangkat”. Jadi, Yesus mengangkat dan membawa naik di dalam tubuh-Nya semua dosa kita ke atas kayu salib. Lalu kata “kebenaran” dalam bhs Yun. menggunakan kata “dikahyosoonay” yang artinya: “apa yang dituntut oleh Allah; kebenaran yang dianugerahkan oleh Allah”. Selanjutnya kata “hidup” dalam bhs Yun. menggunakan kata “dzah’o” yang artinya hidup kembali; telah sembuh”. Jadi, kita yang telah sembuh dan telah hidup kembali harus berkomitmen untuk hidup dalam kebenaran yang dituntut dan dianugerahkan oleh Allah bagi kita – baca Ul.29:29: “Hal-hal yang tersebunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya, supaya kita melakukan segala perkataan hukum Taurat ini”.

3)    Komitmen untuk hidup sebagai orang yang sudah sembuh – ayat 24b – “Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh”. Ayat ini merujuk kepada Bil.21:9: “Lalu Musa membuat ular tembaga dan menaruhnya pada sebuah tiang; maka jika seseorang dipagut ular, dan ia memandang kepada ular tembaga itu, tetaplah ia hidup”. Tetapi bangsa Israel yang telah sembuh itu justru mereka melakukan dosa – 2 Raja2 18:4. Kita yang sudah mengalami kesembuhan, jangan berbuat dosa lagi – Yohanes 3:14-15.

4)    Komitmen untuk hidup dalam pengasuhan Allah – ayat 25 – “Sebab dahulu kamu sesat seperti domba, tetapi sekarang kamu telah kembali kepada gembala dan pemelihara jiwamu”  

Hidup dalam pengorbanan atau penderitaan merupakan suatu panggilan dari Allah Tritunggal bagi setiap orang percaya. Yesus telah mengorbankan segala-galanya bagi kita. Kini giliran kita untuk berkorban bagi Dia dan sesama. Memang tidak mudah untuk hidup dalam pengorbanan. Oleh sebab itu, yang dibutuhkan dari kita ialah sikap konsisten untuk tetap berada di jalan yang telah ditempuh oleh Yesus. Selain itu, kita juga harus hidup dalam komitmen atau janji hati bahwa kita mau setia bersama Yesus sampai akhir hidup kita. Amin

Monday, April 15, 2019

Pengampunan Dari Tuhan

Pengampunan dari Tuhan ~ Firman Tuhan menegaskan bahwa pengampunan dari Tuhan diberikan kepada setiap orang yang mau datang kepada-Nya dan mengakui segala dosa dan kejahatannya. Janji pengampunan dari Tuhan ditulis dengan jela dalam firman-Nya. Rasul Yohanes dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan” – 1 Yohanes 1:9.

Jadi, setiap orang yang datang kepada Tuhan dengan rendah hati dan mengakui dosa-dosanya di hadapan Tuhan, maka tersedia pengampunan dari Tuhan untuknya. Pengampunan dari Tuhan itu diberikan bukan karena kita layak diampuni, namun itu karena anugerah-Nya.

Pengampunan dari Tuhan kepada kita sejalan dengan pengampunan yang kita berikan kepada setiap orang yang bersalah kepada kita. Firman Tuhan menegaskan bahwa: “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di sorga akan mengampuni kamu juga. Tetapi jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu” – Matius 6:14-15.


Setiap orang yang telah menerima pengampunan dari Tuhan, maka padanya ada kuasa dan kemampuan untuk mengampuni. Firman Tuhan menegaskan bahwa: “Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu” – Efesus 4:32.

Ketika kita menerima pengampunan dari Tuhan, maka hati kita sudah terbebas dari rasa sakit, benci dan dendam. Hati kita melimpah dengan kasih Tuhan dan rasa syukur yang besar. Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi kita untuk menyimpan dendam terhadap sesama yang menyakiti kita.

“Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” Yesus berkata kepadanya: “Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” – Matius 18:21-22.
Berikut beberapa langkah yang harus kita tempuh ketika kita memohon pengampunan dari Tuhan. Langkah-langkah tersebut akan diuraikan di bawah ini:

Satu, kita harus mengakui dosa-dosa kita.
Hal itu sejalan dengan kebenaran firman Tuhan yang ditulis oleh pemazmur demikian: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku, aku senantiasa bergumul dengan dosaku” – Mazmur 51:2-4.

Dua, kita harus mohon pengampunan dari Tuhan.
Hal itu sesuai dengan perintah Tuhan dalam firman-Nya. “Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali!” Bersihkanlah aku dari pada dosaku dengan hisop, maka aku menjadi tahir, basuhlah aku, maka aku menjadi lebih putih dari salju! Biarlah aku mendengar kegirangan dan sukacita, biarlah tulang yang Kauremukkan bersorak-sorak kembali! Sembunyikanlah wajah-Mu terhadap dosaku, hapuskanlah segala kesalahanku! Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh! Janganlah membuang aku dari hadapan-Mu, dan janganlah mengambil roh-Mu yang kudus dari padaku. Bangkitkanlah kembali padaku kegirangan karena selamat yang dari pada-Mu, dan lengkapilah aku dengan roh yang rela” – Mazmur 51:7-12.

Tiga, kita percaya Tuhan telah mengampuni dosa kita.
Hal itu selaras dengan firman Tuhan. “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu! Selama aku berdiam diri, tulang-tulangku menjadi lesu karena aku mengeluh sepanjang hari; sebab siang malam tangan-Mu menekan aku dengan berat, sumsumku menjadi kering, seperti oleh teriknya musim panas. Dosaku kuberitahukan kepada-Mu dan kesalahanku tidaklah kusembunyikan; aku berkata: “Aku akan mengaku kepada TUHAN pelanggaran-pelanggaranku”, dan Engkau mengampuni kesalahan karena dosaku. Sebab itu hendaklah setiap orang saleh berdoa kepada-Mu, selagi Engkau dapat ditemui; sesungguhnya pada waktu banjir besar terjadi, itu tidak melandanya. Engkaulah persembunyian bagiku, terhadap kesesakan Engkau menjaga aku, Engkau mengelilingi aku, sehingga aku luput dan bersorak” – Mazmur 32:1-6.

Mohon Pengampunan Tuhan

Mohon pengampunan Tuhan ~ Rasul Paulus dalam pimpinan Roh Kudus menulis: “Karena semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” – Roma 3:23. Berdasarkan kebenaran firman Tuhan tersebut, maka setiap orang harus mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosanya. Mohon pengampunan Tuhan ini sangat penting bagi setiap orang.

Dikatakan demikian, karena semua orang berdosa kepada Tuhan. Dan karenanya ia harus mohon pengampunan Tuhan bagi dirinya sendiri. Untuk bisa mohon pengampunan Tuhan, maka setiap orang harus menyadari bahwa dirinya adalah orang berdosa. Tanpa kesadaran tersebut, maka mustahil orang bisa mohon pengampunan Tuhan.

Ketika kita sadar sebagai orang berdosa, lalu mohon pengampunan Tuhan, maka Tuhan akan bertindak untuk memberikan pengampunan kepada setiap orang yang mohon pengampunan Tuhan bagi dirinya. Kita mohon pengampunan Tuhan dan Tuhan memberikannya karena memang Tuhan itu suka mengampuni.


Penulis kitab Mazmur dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu” – Mazmur 86:5.
Firman Tuhan tersebut merupakan dasar teologis yang kuat bagi kita untuk mohon pengampunan Tuhan atas dosa-dosa kita.

Raja Daud dalam perjalanannya pernah mengalami kegagalan. Kegagalan Daud ialah ketika ia melakukan dosa perzinahan yaitu bersinah dengan istri Uria bernama Betsyeba. Daud sekalipun dia seorang raja dan telah melakukan pelanggaran atau dosa, Tuhan mengasihi Daud. Bukti Tuhan mengasihi Daud yaitu Tuhan mengutus nabi Natan untuk menyadarkan Daud akan dosanya.

Ketika nabi Natan mengoreksi dan menunjukan dosa Daud, Daud sadar. Inilah langkah awal yang dialami oleh Daud. Selanjutnya Daud mohon pengampunan Tuhan atas dosanya. Salah satu Mazmur yang ditulis oleh raja Daud ialah Mazmur pengakuan dosa dan mohon pengampunan Tuhan dalam hidupnya.
Raja Daud dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar!” – Mazmur 51:3. Di sini raja Daud mohon pengampunan Tuhan dengan berkata kasihanilah aku, ya Allah. Selanjutnya raja Daud mohon pengampunan Tuhan dengan meminta agar Tuhan menghapus segala pelanggarannya.

Tuhan bertindak mengampunan raja Daud yang mhon pengampunan Tuhan dalam hidupnya. Penulis kitab Mazmur dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia; sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita” – Mazmur 103:11-12.

Kita mohon pengampunan Tuhan karena kasih setia Tuhan itu melampaui dosa dan kejahatan kita. Kita mohon pengampunan Tuhan karena Tuhan menjauhkan pelanggaran kita sejauh timur dari barat. Kita mohon pengampunan Tuhan karena Tuhan tidak ingat lagi segala pelanggaran kita.

Kita mohon pengampunan Tuhan karena memang Tuhan yang berjanji akan mengampuni segala dosa kita. Penulis kitab Yesaya dalam pimpinan, tuntunan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Marilah, baiklah kita beperkara! – firman TUHAN – Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba” – Yesaya 1:18.

Kutipan firman Tuhan di atas merupakan janji Tuhan kepada bangsa Israel dan juga bagi kita pada masa kini. Bahwa dari pihak Tuhan akan memberikan pengampunan kepada setiap orang yang mohon pengampunan kepada-Nya. Dan pengampunan dari Tuhan itu sempurna diberikan kepada kita.

Cara Memperoleh Pengampunan Dari Tuhan

Cara memperoleh pengampunan dari Tuhan ~ Landasan firman Tuhan untuk tema tersebut diambil dari Kisah Para Rasul 13:38. Dokter Lukas dalam pimpinan, tuntuan, arahan, bimbingan dan ilham Roh Kudus, menulis: “Jadi ketahuilah, hai saudara-saudara, oleh karena Dialah maka diberitakan kepada kamu pengampunan dosa”.

Kutipan firman Tuhan di atas, memberitahukan kepada kita bahwa pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui Dia mengutus Yesus datang ke dalam dunia ini. Pada sisi lain, pengampunan Allah atas orang berdosa dibutikan melalui kasih-Nya yang tetap kepada manusia berdosa.

Menurut Alkitab, semua manusia telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah – Roma 3:23. Dalam keadaan semacam itu, maka manusia tidak dapat menyelamatkan diri dari hukuman atas dosa-dosanya. Kendati demikian, Alkitab menegaskan bahwa Allah itu kasih dan dalam kasih-Nya tetap mengasihi manusia yang diciptakan segambar dengan Dia.

  
Fakta bahwa manusia tidak bisa menyelamatkan dirinya itulah yang membuat manusia membutuhkan pengampunan Allah. Pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui janji yang diucapkannya dalam kitab Kejadian 3:15. Realisasi pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui Dia memelihara janji-Nya untuk menyelamatkan manusia berdosa.
 
Pengampunan itu apa?
Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “mengampuni”, diartikan sebagai “pembebasan dari tuntutan karena melakukan kesalahan atau kekeliruan”. Di sini menegaskan bahwa ada seseorang yang melakukan kesalahan kepada pihak lain. Seseorang yang melakukan kesalahan ini meminta ampun kepada pihak lain yang dirugikan. Tujuan meminta maaf ialah supaya relasi kedua belah pihak kembali normal dan dipulihkan.

“Pengampunan bukan diberikan karena seseorang pantas diampuni. Tidak seorang pun pantas diampuni. Pengampunan adalah tindakan kasih, kemurahan dan anugerah dari orang yang disakiti. Pengampunan adalah keputusan untuk tidak mendendam terhadap orang yang bersalah terhadap Anda”. Artinya ialah bahwa kita yang disakiti namun kita bersedia mengampuni yang menyakiti kita.

Dalam konsep dan ajaran kitab suci, semua manusia sangat butuh pengampunan dari Allah karena memang semua manusia selalu menyakiti hati Allah. Dalam kitab Pengkhotbah 7:20 ditegaskan bahwa, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!”. Selanjutnya dalam 1 Yohanes 1:8, kenyataan ini ditekankan, “Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita”.

oleh karena itulah, maka semua manusia tanpa kecuali memerlukan pengampunan dari Allah. Pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui:

Satu, pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui karakter-Nya sebagai Maha Pengasih dan Maha Pemurah serta Maha Penyayang. Dalam 2 Petrus 3:9 dikatakan, “Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.”

Dua, pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui kesediaan-Nya untuk mengampuni kita. Hukuman yang paling adil terhadap dosa manusia ialah kematian. Dalam Roma 6:23, rasul Paulus menegaskan bahwa: “Sebab upah dosa ialah maut,...”. Jadi, maut atau kematian merupakan upah yang pantas bagi manusia berdosa. Tetapi pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui inkarnasi Yesus menjadi manusia – Yohanes 1:1, 14.

Tiga, pengampunan Allah atas orang berdosa dibuktikan melalui kematian Yesus di atas kayu salib. Rasul Paulus menulis: “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah” – 2 Korintus 5:21. Yesus mati di salib untuk menggantikan kita menerima hukuman yang seharusnya kita terima. Sebagai Allah Putera, kematian Yesus menyediakan pengampunan dosa bagi seluruh dunia.

Apa Kata Alkitab Tentang Tritunggal Part 2

Apa kata alkitab tentang Tritunggal ~ Supaya kita bisa menangkap konsep ajaran tritunggal mahakudus, maka kita harus memperhatikan struktur bahasa Ibrani dalam kaitannya dengan Allah. Hal ini sangat penting karena tatanan bahasa Ibrani sangat kaya dengan makna atau arti yang memadai dan mendalam.

Kata “Elohim” dan kata ganti “kita” dalam bentuk jamak, yang jelas berarti lebih dari dua – dan merujuk pada tiga atau lebih dari tiga (Bapa, Putera, Roh Kudus). Dalam Yesaya 48:16 dan 61:1 sang Putera berbicara dan merujuk pada Bapa dan Roh Kudus. Bandingkan Yesaya 61:1 dengan Lukas 4:14-19 untuk melihat bahwa yang berbicara adalah Putera.

Matius 3:16-17 menggambarkan peristiwa pembaptisan Yesus. Dalam peristiwa ini kelihatan bahwa Allah Roh Kudus turun ke atas Allah Putera sementara pada saat bersamaan Allah Bapa menyatakan bagaimana Dia berkenan dengan sang Putera. Matius 28:19 dan 2 Korintus 13:14 adalah contoh ayat yang membahas mengenai tiga Pribadi berbeda dalam Tritunggal.

3) Pribadi-Pribadi dalam Tritunggal dibedakan dari satu dengan yang lainnya dalam berbagai ayat. Dalam Perjanjian Lama, “TUHAN” berbeda dari “Tuhan” (Kejadian 19:24; Hosea 1:4). TUHAN memiliki “Anak” (Mazmur 2:7; 12; Amsal 30:2-4). Roh Kudus dibedakan dari “TUHAN” (Bilangan 27:18) dan dari “Allah” (Mazmur 51:12-14). Allah Putera dibedakan dari Allah Bapa (Mazmur 45:7-8; Ibrani 1:8-9). 


Dalam Perjanjian Baru, Yohanes 14:16-17, Yesus berbicara kepada Bapa tentang mengutus Sang Penolong, yaitu Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak memandang diriNya sebagai Bapa atau Roh Kudus. Perhatikan pula saat-saat lain dalam kitab-kitab Injil ketika Yesus berbicara kepada Bapa. Apakah Dia berbicara kepada diri sendiri? Tidak. Dia berbicara kepada Pribadi lainnya dalam Tritunggal, - Sang Bapa.

4) Setiap Pribadi dalam Tritunggal adalah Allah. Bapa adalah Allah: Yohanes 6:27; Roma 1:7; 1 Petrus 1:2. Putera adalah Allah: Yohanes 1:1, 14; Roma 9:5; Kolose 2:9; Ibrani 1:8; Yohanes 5:20. Roh Kudus adalah Allah: Kisah Rasul 5:3-4; 1 Korintus 3:16 (Yang mendiami adalah Roh Kudus – Roma 8:9; Yohanes 14:16-17; Kisah Rasul 2:1-4).

5) Subordinasi dalam Tritunggal: Alkitab memperlihatkan bahwa Roh Kudus tunduk (subordinasi) kepada Bapa dan Putera, dan Putera tunduk (subordinasi) kepada Bapa. Ini adalah relasi internal dan tidak mengurangi atau membatalkan keilahian dari setiap Pribadi dalam Tritunggal.

Ini mungkin bagian dari Allah yang tidak terbatas yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran kita yang terbatas. Mengenai Putera, lihat Lukas 22:42; Yohanes 5:36; Yohanes 20:21; 1 Yohanes 4:14. Mengenai Roh Kudus lihat Yohanes 14:16; 14:26; 15:26; 16:7, dan khususnya Yohanes 16:13-14.

6) Pekerjaan dari setiap Pribadi dalam Tritunggal: Bapa adalah Sumber utama atau Penyebab utama dari a) alam semesta (1 Korintus 8:6; Yohanes 1:3; Kolose 1:16-17); b) pewahyuan illahi (Yohanes 1:1; Matius 11:27; Yohanes 16:12-15; Wahyu 1:1); c) keselamatan (Yohanes 3:16-17); dan d) pekerjaan Yesus sebagai manusia (Yohanes 5:17; 14:10). Bapa MEMULAI semua ini.

Putera adalah agen yang melalui diriNya Bapa melakukan karya-karya sbb: a) penciptaan dan memelihara alam semesta (1 Korintus 8:6; Yohanes 1:3; Kolose 1:16-17); b) pewahyuan illahi (Yohanes 1:1; Matius 11:27; Yohanes 16:12-15; Wahyu 1:1); c) keselamatan (2 Korintus 5:19; Matius 1:21; Yohanes 4:42).

Bapa melakukan semua ini melalui Putera yang berfungsi sebagai agen Allah. Roh Kudus adalah alat yang dipakai Bapa untuk melakukan karya-karya berikut ini: a) penciptaan dan memelihara alam semesta (Kejadian 1:2; Ayub 26:13; Mazmur 104:30); b) pewahyuan illahi (Yohanes 16:12-15; Efesus 3:5; 2 Petrus 1:21); dan c) keselamatan (Yohanes 3:6; Titus 3:5; 1 Petrus 1:2); dan pekerjaan-pekerjaan Yesus (Yesaya 61:1; Kisah Rasul 10:38). Bapa melakukan semua ini dengan kuasa Roh Kudus.

Bapa, Putera, dan Roh Kudus bukanlah bagian dari Allah namun setiap Pribadi ini adalah Allah. Ilustrasi yang menggunakan air sedikit lebih bagus dalam menjelaskan Tritunggal, namun tetap tidak memadai. Cairan, uap, dan es adalah bentuk-bentuk dari air. Bapa, Putera dan Roh Kudus bukanlah bentuk-bentuk dari Allah, karena setiap Pribadi itu adalah Allah. Dengan demikian, walaupun ilustrasi-ilustrasi ini memberi gambaran mengenai Tritunggal, gambaran yang diberikan tidak akurat. Allah yang tidak terbatas tidak dapat digambarkan secara penuh dengan ilustrasi yang terbatas.

Daripada menfokuskan diri pada konsep Tritunggal, cobalah memfokuskan diri pada kebesaran Allah dan kenyataan bahwa Dia jauh lebih agung dari kita. “Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (Roma 11:33-34).

Apa Kata Alkitab Tentang Tritunggal

Apa kata alkitab tentang Tritunggal ~ Ajaran tritunggal mahakudus merupakan suatu konsep ajaran yang sangat sukar untuk dimengerti atau dipahami secara utuh. Secara umum ajaran tritunggal mahakudus bukanlah ajaran yang gampang diajarkan dan dijelaskan kepada umat Kristen apalagi kepada umat yang bukan Kristen. 

Dikatakan demikian karena ajaran tritunggal mahakudus berfokus dan sentralnya ialah Pribadi Allah yang mahasempurna. Karena itulah sehingga ajaran tritunggal mahakudus memang tidak bisa diuraikan secara sempurna oleh logika manusia yang terbatas. Allah tritunggal itu mahasempurna, mahakuasa, mahamulia, mahabesar dan mahaagung. Inilah yang menyebabkan ajaran tritunggal mahakudus sangat sukar diuraikan oleh manusia yang berdosa.

Dalam catatan para nabi dalam Perjanjian Lama maupun dalam tulisan para rasul dalam Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa konsep ajaran tritunggal mahakudus ini memang sangat unik dan menarik. Dijelaskan bahwa Bapa itu adalah Allah, Yesus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.

Pada sisi lain, dalam catatan para nabi dan para rasul menegaskan juga bahwa Allah itu esa atau hanya ada satu Allah. Allah itu esa atau hanya ada satu Allah menegaskan tentang monoteis. Allah yang monoteis tersebut menampak diri dalam tiga pribadi. Tiga Pribadi inilah yang menjadi konsep dasar tentang ajaran tritunggal mahakudus.


Tiga Pribadi setara dan sama-sama berelasi dan berkarya baik dalam penciptaan alam semesta maupun dalam tindakan penyelamatan umat manusia berdosa dan dalam memberikan providensia kepada segenap ciptaan-Nya. Inilah beberapa hal yang bisa kita pahami atau mengerti tetapi tetap saja pemahaman dan pengertia kita sangat minim dan terbatas.

Harus juga kita mengerti bahwa konsep ajaran tritunggal mahakudus bukanlah ajaran yang salah atau konsep yang tidak alkitabiah. Dikatakan demikian, karena ajaran tritunggal mahakudus sangat nyata di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjajian Baru.

Pada saat kita mempelajari konsep ajaran tritunggal mahakudus, kita harus ingat bahwa sesungguhnya tidak ada di dalam bagian-bagian Alkitab yang secara jelas menggunakan kata tritunggal atau trinitas. Penggunaan dan pemakaian kata tritunggal atau trinitas untuk memudahkan dalam menguraikan ketritunggalan Allah, yaitu Allah yang esa yang menyatakan diri dalam tiga Pribadi yang ada bersama-sama dalam kekekalan.

Yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa ajaran tritunggal mahakudus bukan untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah. Ajaran tritunggal mahakudus menunjuk kepada pemahaman bahwa Allah itu esa atau hanya ada satu Allah yang berfungsi dalam tiga Pribadi yaitu Bapa, Anak, Roh Kudus. Kita tidak salah menggunakan istilah tritunggal sekalipun istilah tersebut tidak muncul di dalam Alkitab.

konsep ajaran tritunggal mahakudus ada di dalam Alkitab. Berikut beberapa bagian ayat firman Tuhan yang membawa kita kepada diskusi berkaitan dengan ajaran tritunggal mahakudus.

1) Allah itu Esa: Ulangan 6:4; 1 Korintus 8:4; Galatia 3:20; 1 Timotius 2:5
2) Tritunggal terdiri dari tiga Pribadi: Kejadian 1:1; 1:26; 3:22; 11:7; Yesaya 6:8; 48:16; 61:1; Matius 3:16-17; Matius 28:19; 2 Korintus 13:14.

Untuk ayat-ayat dari Perjanjian Lama, pemahaman atas bahasa Ibrani sangatlah menolong. Dalam Kejadian 1:1, kata “Elohim” merupakan bentuk jamak. Dalam Kejadian 1:26; 3:22; 11:7 dan Yesaya 6:8, kata jamak “kita” yang digunakan.

Dalam bahasa Inggris hanya ada dua bentuk kata, tunggal dan jamak. Dalam bahasa Ibrani ada tiga macam bentuk kata: tunggal, dual dan jamak. Dalam bahasa Ibrani, bentuk dual digunakan untuk hal-hal yang berpasangan, seperti mata, telinga dan tangan.