Showing posts with label Tritunggal. Show all posts
Showing posts with label Tritunggal. Show all posts

Monday, April 29, 2019

Tritunggal Dan Kristologi

Tritunggal dan KristologiDoktrin Allah Tritunggal berada pada rangking teratas sebagai doktrin yang sangat sulit dijelaskan, dimengerti dan dipahami. Dikatakan demikian, karena berdasarkan pengakuan para penulis Alkitab yaitu bahwa Allah itu esa (monoteisme) tetapi juga dipercayai keberadaan dan kehadiran-Nya dalam tiga pribadi (hupostasis) ilahi. Dan tetap tidak terjebak ke dalam praktek penyembahan kepada tiga Allah (Triteisme).

Rangking kedua sebagai doktrin yang juga tidak kalah sulitnya untuk dijelaskan, dimengerti dan dipahami ialah doktrin Kristologi (doktrin tentang Kristus). Dikatakan demikian, karena sesuai dengan pengakuan dan ajaran para rasul, yaitu bahwa Yesus Kristus diberitakan, diterima dan diimani sebagai Allah sepenuhnya dan juga sepenuhnya manusia (Deus et vere homo).

Merujuk kepada pernyataan di atas, maka dapat dipahami bahwa sesungguhnya iman Kristen merupakan suatu misteri. Kemisterian iman Kristen mengacu kepada: misteri Allah Tritunggal dan misteri inkarnasi Yesus. Kita perlu mengerti dan memahami bahwa kedua doktrin tersebut bukan dan tidak bisa dipandang misteri. Mengapa dikatakan begitu?


Sebab doktrin (bahasa Latin Docere artinya mengajar) merupakan suatu upaya kita untuk menjabarkan dan memberi pengajaran tentang kehidupan di hadapan Sang Misteri tersebut. Penjabaran dan pengajaran kita selalu saja tidak lengkap dan terbatas. Kendati demikian, dalam frame menjabarkan dan mengajarkan doktrin memang tetap pada spirit harus bisa dimengerti dan diterima dengan benar.Sebagai sebuah penjelasan dan pengajaran, doktrin harus bisa dipahami dengan baik.

Arti kata misteri
Kata “misteri” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai: “Sesuatu yang masih belum jelas (masih menjadi teka-teki; masih belum terbuka rahasianya); kenyataan yang begitu luhur sehingga secara mendasar melampaui daya tangkap manusia; apa pun yang semakin dapat dimengerti atau dihayati, tetapi tidak pernah ditangkap seluruhnya sehingga tetap merupakan rahasia menyangkut kehadiran atau kegiatan Ilahi, misalnya Allah Tritunggal”.

Di sini, kata “misteri” harus kita mengerti dan pahami secara baik dan benar. Sebagaimana yang didefinisikan di atas, maka kita mengerti, mengetahui dan memahami bahwa kata “misteri” mengacu kepada kenyataan yang memang sulit untuk dijelaskan secara lengkap baik melalui logika apologetika rasional maupun diumpamakan berdasarkan fakta empiris.

Dengan demikian, iman Kristen merupakan sebuah misteri. Artinya di sini ialah bahwa misteri iman tentulah tidak sama dengan teka-teki dan problematika. Dikatakan demikian, karena masalah pasti ada solusinya atau bisa diselesaikan dan teka-teki bisa kita pecahkan.

Namun, ketika kita masuk dan menggeluti doktrin sebagai sebuah pengajaran tentang misteri iman sangatlah berbeda. Maksudnya ialah bahwa pengajaran atau doktrin yang bersentuhan dengan misteri iman bukanlah suatu upaya untuk menyelesaikan dan menyibak misteri itu. Tetapi suatu perjuangan iman dalam ranah hidup insani dengan spirit untuk merawat dan memeliharanya sehingga tetap dalam bingkai misteri dan secara bersamaan juga bahwa misteri iman dapat memberi arti dalam hidup beriman kita.

Berdasarkan doktrin Allah Tritunggal dan Kristologi (dua hakikat Yesus Kristus: Allah sepenuh-penuhnya dan manusia sepenuh-penuhnya[1]) sebagaimana diutarakan di atas, semua fondasi kebenaran tentang iman Kristen diajarkan, dihidupi, dipertahankan dan dikembangkan serta diberitakan. Karenanya menurut Gereja Orthodoks Timur bahwa di dalam kedua dogma itulah memberi jaminan manusia dapat diselamatkan kalau ia hidup di dalamnya dan pada sisi lain kalau manusia menolak untuk hidup di dalamnya maka dia pasti tidak selamat alias binasa.

Secara legal formal patut diakui bahwa doktrin tentang Trinitas atau Tritunggal diformulasikan atau dirumuskan sesudah gereja mula-mula memformulasikan secara legal formal rumusan tentang doktrin Kristologi. Dengan demikian, penerimaan dan pengakuan tentang doktrin Trinitas atau Tritunggal oleh gereja terjadi sebagai konsekuensi logis dari adanya rumusan doktrin Kristologi yang menegaskan bahwa Yesus Kristus sebagai Allah dan manusia yang menjadi mediator (pengantara) keselamatan bagi dunia. Karenanya mau tidak mau agar dapat mengerti dan memahami tentang doktrin Trinitas atau Tritunggal, kita musti mengawalinya dengan menggali terlebih dahulu konsep doktrin tentang Yesus Kristus. Bersambung...!



[1] Penggunaan kata “sepenuh-penuhnya” bertujuan untuk memberi tekanan dan penegasan tentang konsep keilahian Yesus Kristus dan kemanusiaan-Nya.

Thursday, April 25, 2019

Menyibak Jejak History Tritunggal

Menyibak jejak history Tritunggal ~ Perjalanan sejarah dari konsep Trinitas atau Tritunggal melewati suatu perjalanan dan pergumulan teologis yang panjang serta membutuhkan banyak waktu guna merumuskannya. Lebih dari pada itu, ada begitu banyak tokoh yang telah berkontribusi dalam hal waktu, tenaga dan pikiran yang cerdas demi meletakan dasar teologis yang kuat terhadap konsep doktrin Trinitas atau Tritunggal.

Kaisar Romawi yaitu Konstantin ditengarai berperan penting dalam meletakkan sejarah doktrin Trinitas atau Tritunggal. Ada sekitar 1800 uskup dipertemukan di Nicea yang mana terjadi atas undangan Kaisar Romawi Konstantin.

1800 uskup tersebut berasal dari dua bagian wilayah, yaitu dari wilayah timur sekitar  1000 orang, lalu sisanya yaitu 800 orang dari barat. Tetapi tidak semua memenuhi undangan kaisar Konstantin. Ada catatan dari beberapa tokoh yang memenuhi undangan di Nicea pada waktu itu.

Eusebius dari Kaisaria menghitung 250, Athanasius dari Alexandria menghitung 318, dan Eustatius dari Antiokhia mencatat 270 orang. Mereka bertiga hadir pada konsili ini. Belakangan Socrates Scholasticus mencatat lebih dari 300 orang dan Evagrius, Hilarius, Hieronimus dan Rufinus mencatat 318 orang.


Dari catatan daftar hadir yang dikemukakan oleh beberapa tokoh tersebut ada perbedaan. Ini menegaskan bahwa tidak ada catatan yang akurat dan pasti dari peserta yang hadir di Nicea.

Latar belakang keyakinan Konstantin sesungguhnya non Kristen. Tetapi ketika Kaisar Konstantin terpilih dan memerintah sebagai Kaisar Romawi, kebijakan yang diambilnya ialah membuat kekristenan menjadi agama negara yang sah dan legal secara hukum kerajaan.

Latar belakang dijadikannya kekrisnten sebagai agama yang legal, disebabkan keyakinan Konstantin atas kemenangan yang diraihnya itu berkat campur tangan Tuhan Yesus Kristus. Konstantin baru menjadi pengikut Kristus di akhir dari hidupnya. Keyakinan kepada Kristus itu ditandai dengan Konstantin dibaptis ketika ia sedang dalam kondisi sakit yang sangat kritis.

Tentang biografinya, Henry Chadwick mengabadikannya di dalam sebuay tulisan yaitu yang berjudul The Early Church. Di dalam catatannya, Henry menegaskan: “Konstantin, seperti bapanya, menyembah Matahari Yang Tidak Tertaklukkan;… pertobatannya hendaknya tidak ditafsirkan sebagai pengalaman kerelaan yang datang dari batin… Ini adalah masalah militer. Pengertiannya mengenai doktrin Kristen tidak pernah jelas sekali, tetapi ia yakin bahwa kemenangan dalam pertempuran bergantung pada karunia dari Allah orang-orang Kristen”.

Di dalam Encyclopaedia Britannica, dicatat tentang peran fungsional Konstantin pada konsili di Nicea. Apa sesungguhnya peranan Kaisar Konstantin dalam konsili Nicea?. Berikut informasi yang diperoleh dari Encyclopaedia Britannica:

“Konstantin sendiri menjadi ketua, dengan aktif memimpin pertemuan dan secara pribadi mengusulkan… rumusan penting yang menyatakan hubungan Kristus dengan Allah dalam kredo yang dikeluarkan oleh konsili tersebut, ‘dari satu zat dengan Bapa’… Karena sangat segan terhadap kaisar, para uskup, kecuali dua orang saja, menandatangani kredo itu, kebanyakan dari mereka dengan sangat berat hati”.

Berdasarkan informasi tersebut di atas, maka kita menemukan bahwa Kaisar Konstantin punya posisi penting dan strategis di dalam merumuskan konsep doktrin Trinitas atau Tritunggal. Namun dalam historinya, ternyata tidaklah mudah untuk mencapai kata sepakat.

Ada perdebatan, diskusi dan dialog yang alot dan penuh ketegangan di antara para uskup yang hadir di Nicea untuk merumuskan kredoa berkaitan dengan konsep doktrin Trinitas atau Tritunggal. Hal itu berlangsung selama dua bulan, namun tetap saja tidak mendapatkan keputusan yang jelas.

Dalam situasi dan kondisi yang dilematis itulah, Kaisar Konstantin melakukan intervensi. Kaisar Konstantin membuat keputusan yang memberi keuntungan bagi kelompok yang memiliki konsep teologis yaitu Yesus adalah Allah. Ada sikap ambigu yang mengemuka berkaitan dengan keputusan Kaisar Konstantin tentang Yesus adalah Allah. Karena memang bangunan teologis yang secara alkitabiah tidak ada dasarnya.

Di dalam persepsi A Short History of Christian Doctrine, dikatakan bahwa: “Konstantin pada dasarnya tidak mengerti apa-apa tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dalam teologi Yunani”. Artinya keputusan yang dibuat oleh Kaisar Konstantin dalam konsili Nicea adalah keputusan politis. Tujuannya ialah supaya jangan terjadi perpecahan agama dan di sisi lain supaya memperkuat posisi wilayah pemerintahannya.

Pasca Konsili Nicea, dialog, diskusi dan penajaman pengertian terkait dengan konsep Trinitas atau Tritunggal masih berlanjut selama puluhan tahun. Mereka yang percaya bahwa Yesus tidak setara dengan Allah bahkan mendapat angin lagi untuk beberapa waktu. Namun belakangan, Kaisar Theodosius mengambil keputusan menentang mereka. Ia meneguhkan kredo dari Konsili Nicea sebagai standar untuk daerahnya dan mengadakan Konsili Konstantinopel pada tahun 381 M. untuk menjelaskan rumus tersebut.

Konsili tersebut menyetujui untuk menaruh Roh Kudus pada tingkat yang sama dengan Allah dan Kristus. Di sinilah dikatakan untuk pertama kalinya, Tritunggal Susunan Kristen mulai terbentuk dengan jelas. Tetapi, bahkan setelah Konsili Konstantinopel, Tritunggal tidak menjadi kredo yang diterima secara luas. Banyak orang menentangnya dan karena itu mengalami penindasan yang kejam.

Baru pada abad-abad belakangan Tritunggal dirumuskan dalam kredo-kredo yang tetap. The Encyclopedia Americana mengatakan: “Perkembangan penuh dari ajaran Tritunggal terjadi di Barat, pada pengajaran dari Abad Pertengahan, ketika suatu penjelasan dari segi filsafat dan psikologi disetujui”.

Wednesday, April 24, 2019

Memahami Tritunggal Secara Etimologi

Memahami Tritunggal secara etimologi ~ Kata Trinitas atau Tritunggal adalah bersumber dari kosa kata atau tata bahasa Latin. Dalam bahasa Latin, kata Trinitas atau Tritunggal adalah menggunakan kata “trinus” dan “unitas”. Kata Latin “trinus” dan “unitas” diartikan dengan: “tiga serangkai atau tritunggal”. Kedua kata “trinus” dan “unitas” adalah kata benda abstrak, yang terbentuk dari kata sifat trinus (tiga masing-masing, tiga kali lipat), sebagai kata unitas yang merupakan kata benda abstrak yang dibentuk dari unus (satu).

Dalam tata bahasa atau kosa kata Yunani yang sesuai adalah kata “trias”. Kata “trias” itu diartikan sebagai: “satu set dari tiga” atau “berjumlah tiga”. Teofilus dari Antiokhia yaitu pada sekitar tahun 170, dianggap sebagai orang pertama yang memakai istilah dari kata Yunani ini ke dalam teologi Kristen (meskipun bukan tentang Trinitas Ilahi).


Sedangkan teolog Latin yang pertama menggunakan istilah “Trinitas”, “Persona” dan “Substansi” ialah Tertulianus, yaitu pada permulaan abad ke 3. Tertulianus menjelaskan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah “satu dalam esensi – bukan satu dalam Persona”. Artinya ialah Bapa, Anak, Roh Kudus adalah satu dalam esensi atau hakikat yaitu Allah Yang Esa. Namun harus juga dipahami bahwa pada saat yang sama secara Persona atau Person atau Pribadi atau hupostasis berbeda atau tidak sama.

Pada tahun 325, yaitu satu abad berikutnya, para pemimpin gereja menyelenggarakan konsili [Konsili Ekumenis dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur adalah pertemuan seluruh uskup keseluruhan Gereja untuk membahas dan mengambil keputusan yang menyangkut doktrin Gereja dan aturan praktisnya] atau sidang akbar atau pertemuan besar atau musyawarah besar di Nicea. Dalam konsili di Nicea tersebut diputuskan dan ditetapkanlah bahwa doktrin Trinitas sebagai ortodoksi [Ortodoksi dalam sebuah ajaran agama artinya adalah “ajaran yang benar”, terkadang hal ini diartikan sebagai “ajaran yang lama”, “ajaran yang kuno” atau “ajaran yang fundamentalis”].

Lalu gereja juga mengadopsi Pengakuan Iman Nicea, yang memberikan gambaran dan penegasan tentang Yesus Kristus sebagai “Allah dari allah, Terang dari terang, maha Allah dari maha Allah, diperanakkan, bukan dibuat, satu substansi (homoousios) dengan Bapa”. Dalam kitab Wahyu ditegaskan bahwa: “Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuan di atas segala tuan dan Raja di atas segala raja. Mereka bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia” – Wahyu 17:14. Lalu dalam Wahyu 19:16: “Dan pada jubah-Nya tertulis suatu nama, yaitu “Raja segala raja dan Tuan di atas segala tuan”.

Kata “tritunggal” (bahasa Inggris: trinity) berasal dari kata Latin trinitas, yang berarti "yang nomor tiga, tiga serangkai". Kata benda abstrak tersebut terbentuk dari kata sifat trinus (tiga masing-masing, rangkap tiga), [Lewis and Short: “trinus. Perseus.tufts.edu. Diakses tanggal 24 April 2019”] sebagaimana kata unitas merupakan kata benda abstrak yang terbentuk dari unus (satu).

Kata yang sesuai dalam bahasa Yunani adalah Τριάς, yang artinya “satu set dari tiga” atau “yang nomor tiga” [“Liddell & Scott, A Greek-English Lexicon. entry for Τριάς, diakses 24 April 2019] Catatan pertama terkait penggunaan kata Yunani ini dalam teologi Kristen adalah oleh Teofilus dari Antiokhia pada sekitar tahun 179.

Dengan cara demikian juga ketiga hari sebelum [terciptanya] penerang, terdapat tanda-tanda Trinitas [Τριάδος], dari Allah, dan Firman-Nya, dan kebijaksanaan-Nya. Dan yang keempat adalah tanda manusia, yang membutuhkan terang, sehingga demikianlah terdapat Allah, Firman, kebijaksanaan, manusia.[ Aboud, Ibrahim (Fall 2005). Theandros an online Journal of Orthodox Christian Theology and Philosophy. 3, number 1. Diakses 24 April 2019].

Tertullianus, seorang teolog Latin yang menulis pada awal abad ke-3, dianggap sebagai orang pertama yang menggunakan kata-kata Latin terkait “Trinitas” [Against Praxeas, chapter 3. Ccel.org. 1 June 2005. Diakses tanggal 24 April 2019]; “pribadi” dan “substansi” [Against Praxeas, chapter 2 and in other chapters] untuk menjelaskan bahwa Bapa, Putra, dan Roh Kudus adalah “satu dalam esensi — bukan satu dalam Pribadi” [History of the Doctrine of the Trinity. Diakses 24 April 2019]

Arti Kata Tritunggal

Arti kata tritunggal ~ Salah satu doktrin atau pengajaran iman Kristen yang paling kontroversial ialah doktrin atau pengajaran tentang tritunggal. Dikatakan demikian karena memang doktrin tentang tritunggal ini menjadi perdebatan yang sangat tajam antar Kristen dan Islam. Tritunggal adalah satu sahadat atau kredo yang menegaskan bahwa Allah itu esa namun hadir atau berada dalam tiga pribadi. Tritunggal adalah Satu Allah Yang Esa tetapi menyatakan diri-Nya dalam tiga kepribadian yaitu Bapa, Anak, Roh Kudus.

Tritunggal adalah Bapa, Putra, Roh Kudus merupakan tiga pribadi yang sama esensinya, memiliki kedudukan yang sama, kuasanya juga sama dan kemuliaannya juga sama. Istilah Tritunggal adalah dalam bahasa Inggris menggunakan kata trinity. Sedangkan tritunggal adalah dalam bahasa Latin memakai kata trinitas. Tritunggal adalah Tiga Pribadi yang menyatu dalam kesatuan hakikat atau esensi Allah.

Penggunaan istilah “pribadi” ketika dikaitkan dengan tritunggal adalah dalam bahasa Yunani memakai kata “hupostasis”, lalu diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, yaitu “persona”. Lalu istilah tritunggal adalah “persona” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “person”.


Doktrin tritunggal adalah doktrin yang sudah diakui mulai permulaan abad ketiga. Pada permulaan abad ke tiga itulah doktrin tritunggal adalah menyatakan bahwa “Satu keberadaan (Yunani: ousia, Inggris: beeing) Allah di dalam tiga Pribadi dan satu substansi (natur), Bapa, Anak, dan Roh Kudus”. Di sini, Allah yang satu menyatakan keberadaan-Nya dalam tiga persona (Latin) atau person (Inggris) dan ketiga persona atau person itu (Bapa, Anak dan Roh Kudus) memiliki substansi (natur) yang satu dan sama.

Dalam (The Oxford Dictionary of the Christian Church) atau Kamus Oxford Gereja Kristen dijelaskan dan ditegaskan bahwa Trinitas (Latin) atau Tritunggal (Indonesia) merupakan: “dogma sentral dari teologi Kristen”. Artinya di sini ialah bahwa Tritunggal adalah dalam teologi Kristen menjadi pusat dari semua pengajaran iman Kristen. Pengajaran atau doktrin tritunggal disambut, diterima dan diakui dalam gereja seperti: Katolik,Protestan, dan Orthodoks.
Keberadaan dan kehadiran Allah Tritunggal yaitu Bapa, Putra dan Roh Kudus (baca: baik terpisah dan bersama-sama) sangat nyata di dalam banyak ayat Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun dalam Perjanjian Baru. Namun, istilah Tritunggal atau Trinitas tidak secara eksplisit ditulis oleh para penulis Alkitab (para nabi dan para rasul).

Formulasi atau rumusan Tritunggal terlihat jelas dalam Injil Lukas dan Injil Matius. Penulis Injil Lukas, menulis: “dan turunlah Roh Kudus dalam rupa burung merpati ke atas-Nya. Dan terdengarlah suara dari langit: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan” – Lukas 3:22. “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi”, menunjuk kepada Yesus. Dalam rupa burung merpati menunjuk kepada Roh Kudus. Suara dari langit dimengerti dan dipahami sebagai suara sang Bapa. Di sini konteksnya ialah ketika Yesus selesai di baptis oleh Yohanes pembaptis.

Penulis Injil Matius, menulis: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” – Matius 28:19. Ini merupakan pernyataan langsung dari Yesus pasca kebangkitan dan pra kenaikan-Nya ke sorga. Para murid diberi mandat untuk melakukan prosesi pembaptisan di dalam dan atas nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.

Berdasarkan firman Tuhan dalam Injillah, maka doktrin Tritunggal mendapatkan bentuknya seperti sekarang. Pernyataan Yesus yang juga dicatat dalam Injil Yohanes yaitu: “Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa” (Yohanes 10:38; 14:10, 11). Pernyataan Yesus itu menegaskan kesatuan, keberadaan dan kehadiran Bapa dan Anak secara bersama-sama. Dapat juga dipakai untuk menguraikan tentang “pribadi”, “sifat”, “esensi”, “subtansi”. Memang para murid tidak memakai istilah-istilah tersebut.

Monday, April 15, 2019

Apa Kata Alkitab Tentang Tritunggal Part 2

Apa kata alkitab tentang Tritunggal ~ Supaya kita bisa menangkap konsep ajaran tritunggal mahakudus, maka kita harus memperhatikan struktur bahasa Ibrani dalam kaitannya dengan Allah. Hal ini sangat penting karena tatanan bahasa Ibrani sangat kaya dengan makna atau arti yang memadai dan mendalam.

Kata “Elohim” dan kata ganti “kita” dalam bentuk jamak, yang jelas berarti lebih dari dua – dan merujuk pada tiga atau lebih dari tiga (Bapa, Putera, Roh Kudus). Dalam Yesaya 48:16 dan 61:1 sang Putera berbicara dan merujuk pada Bapa dan Roh Kudus. Bandingkan Yesaya 61:1 dengan Lukas 4:14-19 untuk melihat bahwa yang berbicara adalah Putera.

Matius 3:16-17 menggambarkan peristiwa pembaptisan Yesus. Dalam peristiwa ini kelihatan bahwa Allah Roh Kudus turun ke atas Allah Putera sementara pada saat bersamaan Allah Bapa menyatakan bagaimana Dia berkenan dengan sang Putera. Matius 28:19 dan 2 Korintus 13:14 adalah contoh ayat yang membahas mengenai tiga Pribadi berbeda dalam Tritunggal.

3) Pribadi-Pribadi dalam Tritunggal dibedakan dari satu dengan yang lainnya dalam berbagai ayat. Dalam Perjanjian Lama, “TUHAN” berbeda dari “Tuhan” (Kejadian 19:24; Hosea 1:4). TUHAN memiliki “Anak” (Mazmur 2:7; 12; Amsal 30:2-4). Roh Kudus dibedakan dari “TUHAN” (Bilangan 27:18) dan dari “Allah” (Mazmur 51:12-14). Allah Putera dibedakan dari Allah Bapa (Mazmur 45:7-8; Ibrani 1:8-9). 


Dalam Perjanjian Baru, Yohanes 14:16-17, Yesus berbicara kepada Bapa tentang mengutus Sang Penolong, yaitu Roh Kudus. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus tidak memandang diriNya sebagai Bapa atau Roh Kudus. Perhatikan pula saat-saat lain dalam kitab-kitab Injil ketika Yesus berbicara kepada Bapa. Apakah Dia berbicara kepada diri sendiri? Tidak. Dia berbicara kepada Pribadi lainnya dalam Tritunggal, - Sang Bapa.

4) Setiap Pribadi dalam Tritunggal adalah Allah. Bapa adalah Allah: Yohanes 6:27; Roma 1:7; 1 Petrus 1:2. Putera adalah Allah: Yohanes 1:1, 14; Roma 9:5; Kolose 2:9; Ibrani 1:8; Yohanes 5:20. Roh Kudus adalah Allah: Kisah Rasul 5:3-4; 1 Korintus 3:16 (Yang mendiami adalah Roh Kudus – Roma 8:9; Yohanes 14:16-17; Kisah Rasul 2:1-4).

5) Subordinasi dalam Tritunggal: Alkitab memperlihatkan bahwa Roh Kudus tunduk (subordinasi) kepada Bapa dan Putera, dan Putera tunduk (subordinasi) kepada Bapa. Ini adalah relasi internal dan tidak mengurangi atau membatalkan keilahian dari setiap Pribadi dalam Tritunggal.

Ini mungkin bagian dari Allah yang tidak terbatas yang tidak dapat dimengerti oleh pikiran kita yang terbatas. Mengenai Putera, lihat Lukas 22:42; Yohanes 5:36; Yohanes 20:21; 1 Yohanes 4:14. Mengenai Roh Kudus lihat Yohanes 14:16; 14:26; 15:26; 16:7, dan khususnya Yohanes 16:13-14.

6) Pekerjaan dari setiap Pribadi dalam Tritunggal: Bapa adalah Sumber utama atau Penyebab utama dari a) alam semesta (1 Korintus 8:6; Yohanes 1:3; Kolose 1:16-17); b) pewahyuan illahi (Yohanes 1:1; Matius 11:27; Yohanes 16:12-15; Wahyu 1:1); c) keselamatan (Yohanes 3:16-17); dan d) pekerjaan Yesus sebagai manusia (Yohanes 5:17; 14:10). Bapa MEMULAI semua ini.

Putera adalah agen yang melalui diriNya Bapa melakukan karya-karya sbb: a) penciptaan dan memelihara alam semesta (1 Korintus 8:6; Yohanes 1:3; Kolose 1:16-17); b) pewahyuan illahi (Yohanes 1:1; Matius 11:27; Yohanes 16:12-15; Wahyu 1:1); c) keselamatan (2 Korintus 5:19; Matius 1:21; Yohanes 4:42).

Bapa melakukan semua ini melalui Putera yang berfungsi sebagai agen Allah. Roh Kudus adalah alat yang dipakai Bapa untuk melakukan karya-karya berikut ini: a) penciptaan dan memelihara alam semesta (Kejadian 1:2; Ayub 26:13; Mazmur 104:30); b) pewahyuan illahi (Yohanes 16:12-15; Efesus 3:5; 2 Petrus 1:21); dan c) keselamatan (Yohanes 3:6; Titus 3:5; 1 Petrus 1:2); dan pekerjaan-pekerjaan Yesus (Yesaya 61:1; Kisah Rasul 10:38). Bapa melakukan semua ini dengan kuasa Roh Kudus.

Bapa, Putera, dan Roh Kudus bukanlah bagian dari Allah namun setiap Pribadi ini adalah Allah. Ilustrasi yang menggunakan air sedikit lebih bagus dalam menjelaskan Tritunggal, namun tetap tidak memadai. Cairan, uap, dan es adalah bentuk-bentuk dari air. Bapa, Putera dan Roh Kudus bukanlah bentuk-bentuk dari Allah, karena setiap Pribadi itu adalah Allah. Dengan demikian, walaupun ilustrasi-ilustrasi ini memberi gambaran mengenai Tritunggal, gambaran yang diberikan tidak akurat. Allah yang tidak terbatas tidak dapat digambarkan secara penuh dengan ilustrasi yang terbatas.

Daripada menfokuskan diri pada konsep Tritunggal, cobalah memfokuskan diri pada kebesaran Allah dan kenyataan bahwa Dia jauh lebih agung dari kita. “Oh, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! Sebab, siapakah yang mengetahui pikiran Tuhan? Atau siapakah yang pernah menjadi penasihat-Nya?” (Roma 11:33-34).

Apa Kata Alkitab Tentang Tritunggal

Apa kata alkitab tentang Tritunggal ~ Ajaran tritunggal mahakudus merupakan suatu konsep ajaran yang sangat sukar untuk dimengerti atau dipahami secara utuh. Secara umum ajaran tritunggal mahakudus bukanlah ajaran yang gampang diajarkan dan dijelaskan kepada umat Kristen apalagi kepada umat yang bukan Kristen. 

Dikatakan demikian karena ajaran tritunggal mahakudus berfokus dan sentralnya ialah Pribadi Allah yang mahasempurna. Karena itulah sehingga ajaran tritunggal mahakudus memang tidak bisa diuraikan secara sempurna oleh logika manusia yang terbatas. Allah tritunggal itu mahasempurna, mahakuasa, mahamulia, mahabesar dan mahaagung. Inilah yang menyebabkan ajaran tritunggal mahakudus sangat sukar diuraikan oleh manusia yang berdosa.

Dalam catatan para nabi dalam Perjanjian Lama maupun dalam tulisan para rasul dalam Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa konsep ajaran tritunggal mahakudus ini memang sangat unik dan menarik. Dijelaskan bahwa Bapa itu adalah Allah, Yesus adalah Allah, Roh Kudus adalah Allah.

Pada sisi lain, dalam catatan para nabi dan para rasul menegaskan juga bahwa Allah itu esa atau hanya ada satu Allah. Allah itu esa atau hanya ada satu Allah menegaskan tentang monoteis. Allah yang monoteis tersebut menampak diri dalam tiga pribadi. Tiga Pribadi inilah yang menjadi konsep dasar tentang ajaran tritunggal mahakudus.


Tiga Pribadi setara dan sama-sama berelasi dan berkarya baik dalam penciptaan alam semesta maupun dalam tindakan penyelamatan umat manusia berdosa dan dalam memberikan providensia kepada segenap ciptaan-Nya. Inilah beberapa hal yang bisa kita pahami atau mengerti tetapi tetap saja pemahaman dan pengertia kita sangat minim dan terbatas.

Harus juga kita mengerti bahwa konsep ajaran tritunggal mahakudus bukanlah ajaran yang salah atau konsep yang tidak alkitabiah. Dikatakan demikian, karena ajaran tritunggal mahakudus sangat nyata di dalam Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjajian Baru.

Pada saat kita mempelajari konsep ajaran tritunggal mahakudus, kita harus ingat bahwa sesungguhnya tidak ada di dalam bagian-bagian Alkitab yang secara jelas menggunakan kata tritunggal atau trinitas. Penggunaan dan pemakaian kata tritunggal atau trinitas untuk memudahkan dalam menguraikan ketritunggalan Allah, yaitu Allah yang esa yang menyatakan diri dalam tiga Pribadi yang ada bersama-sama dalam kekekalan.

Yang perlu ditekankan di sini ialah bahwa ajaran tritunggal mahakudus bukan untuk mengatakan bahwa ada tiga Allah. Ajaran tritunggal mahakudus menunjuk kepada pemahaman bahwa Allah itu esa atau hanya ada satu Allah yang berfungsi dalam tiga Pribadi yaitu Bapa, Anak, Roh Kudus. Kita tidak salah menggunakan istilah tritunggal sekalipun istilah tersebut tidak muncul di dalam Alkitab.

konsep ajaran tritunggal mahakudus ada di dalam Alkitab. Berikut beberapa bagian ayat firman Tuhan yang membawa kita kepada diskusi berkaitan dengan ajaran tritunggal mahakudus.

1) Allah itu Esa: Ulangan 6:4; 1 Korintus 8:4; Galatia 3:20; 1 Timotius 2:5
2) Tritunggal terdiri dari tiga Pribadi: Kejadian 1:1; 1:26; 3:22; 11:7; Yesaya 6:8; 48:16; 61:1; Matius 3:16-17; Matius 28:19; 2 Korintus 13:14.

Untuk ayat-ayat dari Perjanjian Lama, pemahaman atas bahasa Ibrani sangatlah menolong. Dalam Kejadian 1:1, kata “Elohim” merupakan bentuk jamak. Dalam Kejadian 1:26; 3:22; 11:7 dan Yesaya 6:8, kata jamak “kita” yang digunakan.

Dalam bahasa Inggris hanya ada dua bentuk kata, tunggal dan jamak. Dalam bahasa Ibrani ada tiga macam bentuk kata: tunggal, dual dan jamak. Dalam bahasa Ibrani, bentuk dual digunakan untuk hal-hal yang berpasangan, seperti mata, telinga dan tangan.